Menu

Tauhid : Ngaji Sifat 20 (1)

Ust Sadad:  Ngaji Sifat 20

Halaqoh 0

Pendahuluan

المقدمة

Segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam. Shalawat yang sempurna serta salam yang sempurna atas junjungan kita Nabi Muhammad dan atas keluarga serta para shahabatnya sekalian.

Ni’mat Islam dan ni’mat Iman adalah ni’mat yang sangat besar yang Allah  berikan kepada ummat Islam. Keduanya adalah syarat untuk dapat memasuki syurga dengan kekal di dalamnya dan selamat dari siksa api neraka dengan berbuat ta’at kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala.

Maka wajiblah atas tiap mukallaf (aqil baligh) bahwa ia mengetahui segala rukun Islam dan rukun iman agar ia bersyukur kepada AllahTa’ala dengan mengamalkan amalan-amalan keduanya yang hanya dapat diterima Allah bila kita memiliki ilmunya.

Rukun Islam yang pertama ialah mengucapkan dua kalimah syahadah. Ilmu tentang ma’na dua kalimah syahadah itulah yang disebut ushuluddin atau ilmu tauhid.

Wajib bagi setiap mukallaf untuk mengenal Allah‘Azza wa Jalla dengan segala SifatNya yang wajib bagiNya dan yang mustahil padaNya, serta yang harus padaNya. Demikian pula yang wajib bagi Rasul ’alayhimush shalatu wa sallam dan yang mustahil.

Adapun ilmu tentang rukun Islam yang lain termasuk ilmu fiqih, yang wajib atas tiap mukallaf mengetahuinya untuk kesempurnaan ibadah.

Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Tiap orang ber’amal tanpa ilmu, maka ‘amalnya itu ditolak, tidak diterima.” Beliau SAW juga bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim.”

Dalam kitab زبد dikatakan, “Yang pertama kali wajib atas manusia ialah mengenal Allah dengan yaqin.”

Dalam kitab Khuthbatul Habib Thahir bin Husain dikatakan, “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa ushuluddin ialah mengenal Yang disembah sebelum menyembah, dan itulah hakikat ma’na kalimah syahadah.”
bangga_muslim2
Jika telah diketahui kewajiban ma’rifatullah Ta’ala atas tiap mukallaf, maka diketahui olehmu bahwa ma’rifatullah adalah jazim (yang putus, yang tiada ragu lagi) dan mufaqah (sesuai) pada haq dengan dalil.[1] Adapun dalil adalah hal yang menunjukkan kebenaran suatu perkara. Sedangkan dalil wujudnya AllahTa’ala dengan segala SifatNya cukup dengan dalil ajmaly (keadaan langit, bumi, dan yang di antaranya). Firman AllahSubhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki ‘aqal. (Ali ‘Imran: 190)

[1] Jazim itu ada empat, yaitu:

a.        Jazim mufaqah pada haq dengan dalil, inilah ma’rifah.

b.       Jazim mufaqah pada haq tanpa dalil, inilah taqlid shahih (mengikut yang benar tanpa dalil).

c.        Jazim tiada mufaqah pada haq dengan dalil, inilah jahil markab (kebodohan yang membodohi).

d.       Jazim tiada mufaqah pada haq tanpa dalil, inilah taqlid bathil (mengikut yang salah tanpa ilmu).

By Kajian Kitab Kuning

AMS

Ust Sadad: 📜 Ngaji Sifat 20

📝 Habib Usman bin Yahya

Halaqoh 01

Hukum ‘Aqly

حكم العقل

Hukum ‘Aqly ada tiga, yaitu:

1.      Wajib, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan adanya bagi ‘aqal fikiran.

2.      Mustahil, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan tiadanya bagi ‘aqal.

3.      Jaiz, artinya perkara yang adanya dan tiadanya dapat diterima ‘aqal.

Hukum Syar’i

حكم الشرعية

Hukum syar’i ialah perintah Allah Ta’ala atas perbuatan mukallaf (yang diberatkan/ yang diberi tanggung jawab), maka disebut perintah yang memberatkan (taklif) disebut juga sebagai perintah yang jelas, sebab ditentukan syaratnya atau sebabnya.

Hukum syar’i ada tujuh, yaitu:

1.      Wajib, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.

2.      Sunnah, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala.

3.      Haram, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

4.      Makruh, artinya perkara yang jika dikerjakan tidak mendapat dosa, tetapi perbuatan tersebut tidak disukai Allah dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

5.      Mubah, artinya “harus syar’i”, yaitu perkara yang jika dikerjakan ataupun ditinggalkan tiada mendapat dosa atau pahala.

6.      Shahih (sah), artinya perkara yang lengkap segala syaratnya dan segala rukunnya.

7.      Bathal, artinya perkara yang kurang syaratnya atau rukunnya.

By Kajian Kitab Kuning

Daftar # nama # asal
Kirim 085732125600
Ust Sadad: 📜Ngaji Sifat 20

📝Habib Usman bin Yahya

Halaqoh 02

حكم العادي

Hukum ‘Ady
(Adat/Kebiasaan)

Hukum ‘ady artinya menetapkan suatu perkara bagi suatu hal, atau menetapkan suatu perkara pada suatu hal dengan alasan perkara tersebut berulang-ulang.

1.      Pertambatan/penetapan keadaan suatu perkara dengan keadaan perkara lainnya. Misalnya keadaan kenyang dengan keadaan makan.

2.      Penetapan ketiadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lainnya. Misalnya ketiadaan kenyang dengan ketiadaan makan.

3.      Penetapan keadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lain. Misalnya keadaan dingin dengan ketiadaan selimut.

4.      Pentapan ketiadaan suatu perkara dengan keadaan suatu perkara lain. Misalnya ketiadaan hangus dengan adanya siraman air.

Sekarang anda telah mengetahui perbedaan wajib syar’i dengan wajib ‘aqly. Jika disebutkan wajib atas tiap mukallaf maksudnya ialah wajib syar’i.

Jika disebutkan wajib bagi Allah Ta’ala atau bagi Rasulullah, maka maksudnya ialah wajib ‘aqly.

Jika dikatakan jaiz bagi mukallaf, maka maksudnya jaiz syar’i. Jika dikatakan jaiz bagi Allah Ta’ala, maka maksudnya adalah jaiz ‘aqly.

Yang wajib pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil disebut sifat dua puluh, yang telah berdiri dalil ‘aqly dan naqly atasnya.

Wajib atas tiap mukallaf mengetahui dengan ijmaly saja didalam perkataan (bersifat Allah Ta’ala dengan setiap sifat  kesempurnaan. Adapun yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil ada 20 perkara, yaitu lawan dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ijmaly yaitu yang ada di dalam perkataan “Maha Suci Allah dari dari setiap sifat kekurangan dan dari perkara yang terbayang (terbersit) di hati.”

By Kajian Kitab Kuning
Daftar # nama # asal
Kirim ke 085732125661