Menu

BAGAIMANA MADZHAB IMAM SYAFI’I MENGENAI BID’AH? (3)

6. Hujjatul Islam Imam Ghazali

Hujjatul Islam, al Imam Muhammad bin Muhammad al Ghazali dalam masterpiece-nya Ihya Ulumiddin menyatakan:

وَمَا يُقَالُ إنَّهُ أُبْدِعَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَيْسَ كُلُّ مَا أُبْدِعَ مَنْهِيّاً، بَلِ اْلمَنْهِيُّ بِدْعَةٌ تُضَادُّ سُنَّةً ثَابِتَةً وَتَرْفَعُ أَمْراً مِنَ الشَّرْعِ مَعَ بَقَاءِ عِلَّتِهِ، بَلِ اْلإِبْدَاعُ قَدْ يَجِبُ فِي بَعْضِ اْلأَحْوَالِ إِذَا تَغَيَّرَتِ اْلأَسْبَابُ

“Apa yang dikatakan bahwa itu adalah baru dilakukan setelah Rasulullah maka tidaklah semua perkara bid’ah itu dilarang. Yang dilarang adalah yang bertentangan dengan sunnah tsabitah dan menghilangkan suatu perkara syariat bersama tetapnya illatnya. Bahkan terkadang membuat hal baru (bidah) itu menjadi wajib ketika situasinya berubah.” (Ihya Ulumiddin, Adabul `Akl 2/3)

Pada kesempatan lain, Imam Ghazali berkata ketika mengulas masalah penambahan titik pada al Quran:

وَلاَ يَمْنَعُ مِنْ ذلِكَ كَوْنُهُ مُحْدَثاً فَكَمْ مِنْ مُحْدَثٍ حَسَن كَمَا قِيلَ في إِقَامَةِ الْجَمَاعاَتِ فِي التَّرَاوِيحِ إِنَّهَا مِنْ مُحْدَثَاتِ عُمَرَ رضي الله عنه وَأَنَّهَا بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ. إِنَّمَا اْلبِدْعَةُ اْلمَذْمُومَةُ مَا يُصَادِمُ السُّنَّةَ القَدِيمَةَ أَوْ يَكَادُ يُفْضِي إلى تَغْيِيرِهَا.

“Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti sembahyang Tarawih berjamaah, ia adalah Bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ra, tetapi dipandang sebagai Bid’ah yang baik (Bid’ah Hasanah). Adapun Bid’ah yang dilarang dan tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang bisa merubah Sunnah itu. (Ihya Ulumiddin, I : 276)

Masih pembahasan tentang Bid’ah dlm mahdzab syafii

pengertian-bid-ah-menurut-madzhab-syafii

7. Imam Ibnu Atsir

Imam al Hafizh Ibnu Atsir al Jazari, pakar hadits dan bahasa, juga membagi bid’ah menjadi dua bagian; bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk). Dalam kitabnya, Al-Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar, beliau mengatakan:

الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةُ هُدًى وَبِدْعَةُ ضَلاَلٍ فَمَا كَانَ فِيْ خِلاَفِ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَرَسُوْلُهُ فَهُوَ مِنْ حَيْزِ الذَّمِّ وَاْلإِنْكَارِ وَمَا كَانَ وَاقِعًا تَحْتَ عُمُوْمٍ مِمَّا نَدَبَ اللهُ إِلَيْهِ وَحَضَّ عَلَيْهِ اللهُ وَرَسُوْلُهُ فَهُوَ فِيْ حَيْزِ الْمَدْحِ وَمَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مِثَالٌ مَوْجُوْدٌ كَنَوْعٍ مِنَ الْجُوْدِ وَالسَّخَاءِ وَفِعْلِ الْمَعْرُوْفِ فَهُوَ فِي اْلأَفْعَالِ الْمَحْمُوْدَةِ وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ فِيْ خِلاَفِ مَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ

“Bid’ah ada dua macam: bid’ah huda (sesuai petunjuk agama) dan bid’ah dhalal (sesat). Bid’ah yang menyalahi perintah Allah dan Rasulullah, tergolong bid’ah tercela dan ditolak. Sedangkan bid’ah yang berada di bawah naungan keumuman perintah Allah dan sesuatu yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tergolong bid’ah terpuji. Sesuatu bid’ah (hal baru) yang belum pernah ada yang serupa sebelumnya seperti jenis kedermawanan yang baru atau kebajikan yang baru tentunya itu termasuk hal terpuji dan tidak mungkin digolongkan kepada sesuatu yang menyalahi syariat.” (An Nihayah fi Gharib al Atsar 1/267)

8. Imam Abu Syamah

Imam Abu Syamah, guru Imam Nawawi, penolong sunah dan pembasmi bidah, dalam kitabnya tentang mengingkari bid’ah mengatakan:

(فصل) ثُمَّ اْلحَوَادِثُ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى بِدَعٍ مُسْتَحْسَنَةٍ وَإِلَى بِدَعٍ مُسْتَقْبَحَةٍ فَاْلبِدَعُ اْلحَسَنَةُ مُتَّفَقٌ عَلى جَوَازِ فِعْلِهَا وَاْلاِسْتِحْبَابِ لَها وَرَجَاءِ الثَّوَابِ لِمَنْ حَسُنَتْ نِيَّتُهُ فيهَا

الباعث على انكار البدع والحوادث ( ص : 12)

Fasal. Kemudian hal-hal yang baru itu terbagi menjadi bid’ah-bid’ah yang baik dan bidah-bid’ah yang buruk. Adapun bid’ah yang baik maka itu disepakati kebolehan melakukannya dan kesunahannya dan mengharapkan imbalan pahala bagi orang yang baik niatnya dalam melakukannya. (al Baits `Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal 12)

9. Imam Sakhawi

Imam agung dalam madzhab Syafii, as Syakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits mengatakan mengenai bidah:

وَاْلبِدْعَةُ هِيَ مَا أُحْدِثَ عَلىَ غَيْرِ مِثَالٍ مُتَقَدِّمٍ فَيَشْمُلُ اْلمَحْمُودَ وَاْلمَذْمُومَ وَلِذَا قَسَمَهَا اْلعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ كَمَا سَأُشِيرُ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ اللهُ عِنْدَ التَّسْمِيعِ بِقِرَاءَةِ اللَّحَّانِ اِلَى اْلأَحْكَامِ اْلخَمْسَةِ وَهُوَ وَاضِحٌ وَلكِنَّهَا خُصَّتْ شَرْعًا بِاْلمَذْمُومِ مِمَّا هُوَ خِلاَفُ الْمَعْرُوفِ عَنِ النَّبِي صلى الله عليه وآله وسلم

Bid’ah itu adalah sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh terdahulu sebelumnya. Ia mencakup yang baik dan yang tercela. Oleh sebab itu al Izz bin Abdis Salam membaginya, sebagaimana akan aku isyaratkan insya Allah ketika membahas masalah memperdengarkan qiroah yang lahn, kepada lima hukum. Itu jelas, akan tetapi bid’ah dikhususkan secara syariat kepada yang tercela dari apa yang bertentangan dengan yang makruf dari Nabi saw (Fathul Mughits juz 1/326-327)

10. Imam Suyuthi

Imam Suyuthi dalam Syarah Muwaththo mengatakan:

تُطْلَقُ اْلبِدْعَةُ فِي الشَّرْعِ عَلىَ مَا يُقَابِلُ السُّنَّةَ أَيْ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِهِ صلى الله عليه وآله وسلم ثُمَّ تَنْقَسِمُ إِلىَ اْلأَحْكَامِ اْلخَمْسَةِ

Dalam syariat bid’ah digunakan untuk apa yang menjadi lawan dari sunnah, maksudnya sesuatu yang tidak ada di zaman Rasululllah saw kemudian bid’ah terbagi menjadi lima hukum. (Syarah Muwatho juz 1/105)

11. Ibnu Hajar al Haitami

Imam Ibnu Hajar al Haitami dalam al Fatawa al Haditsiyah mengatakan:

وَقَوْلُ السَّائِلِ : هَلِ اْلاِجْتِمَاعُ لِلْبِدَعِ اْلمُبَاحَةِ جَاِئزٌ ؟ جَوَابُهُ :نَعَمْ هُوَ جَائِزٌ ، قَالَ الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ رَحِمَهُ اللهُ : اْلبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ النَّبِيّ صلى الله عليه وآله وسلم وَتَنْقَسِمُ إِلَى خَمْسَةِ أَحْكَامٍ …

Adapun pertanyaan penanya, “Apakah berkumpul untuk melakukan bidah-bid’ah yang boleh itu diperbolehkan?

Jawabannya: Benar itu diperbolehkan. Berkata al Izz bin Abdis salam ra: Bid’ah itu adalah melakukan apa yang tidak ada di masa Nabi saw dan ia terbagi menjadi lima hukum… (Al Fatawa al Haditsiyah juz 1/150)

12. Imam al Munawi

Dalam faidhul Qodir, Imam al Munawi mengatakan:

الْبِدْعَةُ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : مُحَرَّمَةٌ وَوَاجِبَةٌ وَمَنْدُوبَةٌ وَمَكْرُوهَةٌ وَمُبَاحَةٌ

Bid’ah ada lima macam: Haram, wajib, sunah, makruh dan mubah. (Faidhul Qodir juz 1/440)

13. Imam ad Dimyati

Imam ad Dimyati, ahli fiqih madzhab Syafii dalam kitab monumentalnya I`anat at Thalibin menyatakan:

وَالْحاَصِلُ أَنَّ اْلبِدَعَ اْلحَسَنَةَ مُتَّفَقٌ عَلَى نَدْبِهَا، وَهِيَ مَا وَافَقَ شَيْئًا مِمَّا مَرَّ، وَلَمْ يَلْزَمْ مِنْ فِعْلِهِ مَحْذُورٌ شَرْعِيٌّ. وَمِنْهَا مَا هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ ، كَتَصْنِيفِ اْلعُلُومِ.

Kesimpulannya bahwa bidah-bid’ah hasanah disepakati kesunahannya. Bid’ah hasanah adalah apa yang sesuai dengan dalil yang telah disebutkan. Dan perbuatannya tidak mengakibatkan hal yang terlarang secara syariat. Sebagian dari bid’ah ada yang hukumnya fardhu kifayah seperti penulisan ilmu-ilmu. ( Hasyiyah i`anatith tholibin juz 1/271)

Bid’ah menurut Syafiiyah sdh.  Insyaallah berikutnya dr mahdzab Imam Maliki.